Informasi 3 Wisata Sejarah Peninggalan Kesultanan Bima

Ketika anda berwisata ke Bima terasa tidak lengkap jika anda hanya mengunjungi objek wisata alam, wisata bahari, wisata kuliner, atau objek wisata religi di Bima tanpa mengunjungi objek wisata sejarahnya. Perlu anda ketahui bahwa di Bima terdapat wisata sejarah tentang Kesultanan Bima yang pernah berjaya pada masanya yang harus anda kunjungi.

Wisata sejarah di Nusa Tenggara Barat cukup banyak, anda bisa Berkunjung ke wisata sejarah kota Mataram, wisata sejarah pulau Lombok, Suku Sasak  atau mengunjungi wisata sejarah peninggalan Kesultanan Bima. Untuk referensi wisata sejarah kesultanan Bima, silahkan baca daftar tempat wisata di bawah ini :

1. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Masjid Sultan Muhammad Salahudddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam (Sultan Bima ke-VIII, Wajir Ismail, di masa ke-Emasan Kesultanan Bima). Nama masjid ini dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943) yang merupakan Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh sebagai Sultan di Kesultanan Bima sebelum wilayah Kesultanan disatukan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid Sultan Muhammad Shalahuddin Bima, sumber ig @yanu_unay
Masjid Sultan Muhammad Shalahuddin Bima, sumber ig @yanu_unay

Pada masanya masjid peninggalan Kesultanan Bima merupakan pusat pendidikan dan penyebaran Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya serta menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan dan kemajuan Islam di Bima. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima berlokasi di Jl. Soekarno Hatta, kampung Sigi, kelurahan Paruga, kecamatan Rasa Na’e Barat, kota Bima.

2. Museum Asi Mbojo

Museum Asi Mbojo atau dalam bahasa Indonesia Museum Istana Bima merupakan pusat Pemerintahan Kesultanan Bima, sekaligus menjadi tempat tinggal Sultan Ibrahim. Sebelum pembangunan Istana Bima Baru (Asi Mbojo Ma Bou) pada tahun 1927 – 1929, sebelumnya terdapat Istana Bima Lama (Asi Mbojo Ma Ntoi) yang terletak bersebalahan tepatnya sebelah timur dari Istana Bima Baru dan kedua Istana tersebut berada dalam satu kawasan yang sama.

Museum Asi Mbojo, sumber ig @ronisyaifullah
Museum Asi Mbojo, sumber ig @ronisyaifullah

Di sebelah selatan Istana Bima Baru terdapat Masjid Muhammad Salahuddin Bima, sedangkan sebelah barat terdapat Alun-alun Sera Suba. Konsep tata letak bangunan Istana, Masjid, dan Alun-alun melambangkan tiga elemen yang harus membentuk kesatuan yang utuh, antara Istana (Pemerintahan), Masjid (umat Islam), dan Alun-alun (Rakyat).

Baca juga: Tari Tradisional Suku Mbojo

Istana Bima Baru (Asi Mbojo Ma Bou) beberapa kali mengalami perubahan fungsi, terutama setelah wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin. Bangunan bersejarah ini pernah difungsikan menjadi Gedung Daerah, Asrama Kompi, Kampus Sunan Giri, dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1986, Umar Harun selaku Bupati Bima yang menjabat saat itu, mengusulkan agar Istana Bima Asi Mbojo dialih fungsikan menjadi sebuah museum dengan nama Museum Asi Mbojo. Di dalam museum, tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Bima, seperti ranjang tidur, kain, lemari, foto para sultan, mahkota sultan, parang berukir “Gunti Rante”, senjata, alat-alat ternak, alat-alat rumah tangga, baju adat kesultanan, dan lain-lain.

Salah satu sudut pemakaman raja Bima, sumber ig @fery_marazo
Salah satu sudut pemakaman raja Bima, sumber ig @fery_marazo

3. Dana Taraha Mbojo (Doro Rade Raja Bima)

Dana Taraha Mbojo (Doro Rade Raja Bima) merupakan komplek pemakaman raja-raja dan sultan Kesultanan Bima. Di tempat ini anda dapat melihat kuburan Sultan Bima pertama yaitu Sultan Abdul Kahir, Sultan Nima kedua yaitu Sultan Abdul Sirajuddin, Sultan Nurdin yang memerintah antara tahun 1682 – 1687, Sultan Abdul Kahir II putra dari Sultan Muhammad Salahuddin, para petinggi kerajaan Bima seperti Abdul Samad Ompu Lamuni yang dulunya merupakan perdana menteri Kesultanan Bima, para mubalik penyiar Agama Islam, dan terakhir Sultan Bima ke XVI yaitu Sultan Ferry Zulkarnain atau yang biasa dikenal oleh masyarakat Bima dengan nama Dae Ferry.

Jumlah keseluruhan nisan dalam Dana Taraha Mbojo berjumlah 22 nisan. Dana Taraha Mbojo berlokasi di kelurahan Dara, kecamatan Rasa Na’e Barat, kota Bima. Tempat ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan air laut dan Jarak tempuh ke tempat ini sekitar 10 menit dari Museum Asi Mbojo. Anda bisa mengunjungi tempat ini setiap hari, dari pagi Jam 08.00 – 17.00 WITA.

Batu nisan Sultan Abdul Kahir II, sumber ig @alampeace86
Batu nisan Sultan Abdul Kahir II, sumber ig @alampeace86

Selain anda bisa berwisata sejarah dengan berkunjung ke dalam komplek Dana Taraha Mbojo. Anda juga akan disuguhkan dengan pemandangan kota Bima dari atas bukit Dana Taraha Mbojo. Apalagi dibagian depan komplek Dana Taraha Mbojo sudah dijadikan sebagai tempat nongkrong yang bisa anda kunjungi dari pagi sampai Sore. Bagi anda yang ingin melihat sunset datanglah pada sore hari karena dari atas bukit Dana Taraha Mbojo anda dapat melihat sunset secara sempurna.

Objek wisata sejarah peninggalan Kesultanan Bima diatas berlokasi saling berdekatan sehingga memudahkan anda untuk mengunjunginya, bahkan dalam satu hari saja anda sudah bisa berkeliling ke semua objek wisata tersebut. Melalui objek wisata sejarah kesultanan Bima yang kami rekomendasikan diatas, semoga dapat meningkatkan keinginan anda untuk berwisata ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Semoga bermanfaat dan salam hangat dari GoTripina.

Leave a Comment